Berkunjung

Bagus Guntur Farisa
2 min readDec 3, 2023
Photo by Rostyslav Savchyn on Unsplash

Sebagian besar tanahnya sudah kering. Ada beberapa yang masih basah, dengan penanda bertuliskan tahun lahir yang beragam. Melihat sebagian dari mereka, hati saya bergumam, “Masih muda.“

Tata ruang ataupun estetika bukanlah isu utama di sini. Ada yang berdempet, ada yang tumpang tindih, baik sebagian ataupun sepenuhnya. Rumput-rumput liar tumbuh sporadis dengan gagah dan penuh semangat hidup di sela-sela mereka. Namun satu hal yang pasti, tidak ada yang melintang, semua paralel membujur utara-selatan.

Sejauh ini, para penghuni tidak ada yang protes dengan kondisi yang seperti itu. Para orang yang menitipkan mereka ke situ juga tidak ada yang protes. Toh itu cuma persinggahan sementara. Toh itu juga lahan bersama.

Kaki saya berjingkat, berhati-hati agar tak melangkahi ataupun menginjak satu dari mereka. Usaha itu sia-sia, lahan itu memang padat, dan warga sini sudah maklum selama tak mengusik pengunjung yang lain.

Pelan tapi pasti, saya tiba di tujuan kunjungan: 2 buah penanda yang tumpang tindih sepenuhnya. Mereka tampak akur.

Saya siangi beberapa rumput di atas mereka, “Oh, inikah kegiatan yang dianjurkan orang-orang di internet itu?“ gumam saya.

Senang hati kala melihat hunian mereka sudah tampak lebih rapi, kini dengan hiasan beberapa jumput bunga di atasnya. Semoga mereka juga senang melihat dekorasi yang dari tahun ke tahun itu-itu saja.

Saya rapalkan doa-doa paling mantab yang mampu saya pikirkan. Berharap bisa menjulurkan sebanyak-banyaknya hal-hal baik untuk dipanjat, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dengan sesal yang kosong dan harap yang terisi.

— Maret 2023

(Tulisan ini saya unggah ulang dari Substack pribadi saya)

--

--