Kurban

Bagus Guntur Farisa
2 min readDec 3, 2023
Photo by Taliwang Mengaji on Unsplash

Setelah melalui fase rigor mortis-nya, daging dari kisah-kisah lama itu kami santap dengan rona cerah. Rona yang belum tentu kami dapatkan jika kami putuskan untuk menyikat daging yang sama beberapa momen lebih cepat.

Daging-daging tersebut kami bumbui dengan rempah kebaruan yang kami bawa dari rumah masing-masing, asapi dengan niat-niat baik, dan potong tipis-tipis dengan rasa ingin tahu atas petualangan satu sama lain.

Tiap gigitannya membuat kami, atau paling tidak saya, merasa bahwa orang-orang yang duduk mengelilingi daging ini punya justifikasi sahih jika pada waktu itu harus benci/murka/enggan/jengah pada satu sama lain, pada daging ini, atau paling tidak, pada saya. Mantapnya, justifikasi-justifikasi ini, jika didengar dengan kepala dingin, membuat daging ini kian palatable.

Mulut kami terus saja khidmat mengunyah, dengan sekali-dua berhenti buat turun minum dan jeda ibadah. Tak terasa waktu berlalu, matahari beringsut turun, tapi daging di hadapan kami masih belum menunjukkan tanda-tanda akan habis.

“Mungkin bisa kita bungkus untuk lain pertemuan?” usul salah seorang.

“Boljug juga,” jawab seorang yang lain dengan kalimat yang kurang efisien.

Daging-daging itu lalu kami kemas dengan beberapa lembar alumnium dan kami masukkan ke dalam sebuah kotak timah. Mungkin bisa untuk libur kurban berikutnya.

Sebelum kami berpisah, saya menyeloroh, “Kalian tahu kah kalau ‘kuban’ tu artinya ‘mendekatkan?’”

“Tahu. Tapi apa hubungannya dengan semua ini?”

“Oiya, ya.”

— Juli 2023

(Tulisan ini saya unggah ulang dari Substack pribadi saya)

--

--